Posted in Uncategorized

Jumlah Penduduk Mengancam Ketahanan Pangan

Oleh :
Panji Saksono

F03111023

Ketahanan Pangan merupakan ketersedian pangan dan kemampuan seseorang untuk mengaksesnya. World Health Organization mendefinisikan tiga komponen utama ketahanan pangan, yaitu ketersediaan pangan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan(Anonim, 2013).Dari ketiga komponen utama tersebut, dapat dilihat berbagai masalah ketahanan makan yang terjadi disekitar kita. Dalam paper ini, penulis hanya akan membahas komponen utama ketahanan pangan tentang ketersediaan pangan.

Beberapa tahun ini,ketersediaan pangan yang sering menjadi perbincangan adalahberas. Mengapa? Hal ini dikarenakan beras termasuk bahan pangan pokok yang dikonsumsi oleh sebagian besar penduduk indonesia. Perhatikan data konsumsi rata-rata per kapita yang tertera di bawah ini.

a

Pada tahun 2008, konsumsi beras rata-rata perkapita mencapai 93,440, namun pada tahun 2012 konsumsi beras menurun menjadi 87,235. Akan tetapi, tingkat konsumsi beras masih tetap tinggi dibandingkan yang lain. Penurunan konsumsi beras yang terjadi pada tahun 2012merupakan hasil dari kebijakan pemerintah untuk mengurangi konsumsi beras, dengan tujuan untuk mengimbangi ketersediaan beras terhadap laju pertgumbuhan penduduk.

Mengapa ketersediaan beras harus mengimbangi laju pertumbuhan penduduk? Coba perhatikan tabel di bawah ini.

bi

Dari tahun ke tahun jumlah penduduk terus meningkat, karena peningkatan ini tentu saja harus diimbangi dengan jumlah ketersediaan pangan yang sesuai. Namun, ketersediaan beras yang ada tidak mampu mencukupi kebutuhan penduduk.

Selain itu, akibat dari peningkatan jumlah penduduk ini juga berdampak pada pengurangan lahan, semakin banyak penduduk, berarti semakin banyak pula tempat tinggal yang dibutuhkan. Sehingga banyak lahan pertanian yang dialihfungsikan menjadi komplek perumahan atau jalan.Hal ini dikuatkan dengan teori Robert Maltus (1766-1834), “Pertumbuhan manusia mengikuti deret hitung, sedangkan ketersediaan makanan mengikuti deret ukur”. Apabila dihitung, benar juga, 1 pasangan hidup menghasilkan 2-3 keturunan dan akan terus berkembang, sedangkan semua butuh tempat tinggal. Maka, luas lahan akan semakin berkurang. Jika tidak percaya, berapa banyak alih fungsi lahan pertanian yang produktif kini disulap menjadi pemukiman(Miftachhuddin Cut Adek, 2013).

Sebagai contoh dari pengalihan fungsi lahan terjadi di Sulawesi Selatan,setiap tahun minimal  satu persen lahan pertanian beralih fungsi  menjadi  rumah atau  jalanan. Hal ini terjadi  dihampir seluruh kabupaten/kota yang ada di  Sulsel (Amir, 2013). Dalam contoh tersebut pengalihan lahan hanya terjadi minimal satu persen, sehingga dampaknya untuk satu atau dua tahun mungkin belum terasa, akan tetapi apabila hal ini terus berlanjut hingga lima atau sepuluh tahun kemudian, tentu saja akan sangat terasa dampaknya.  Seperti yang terjadi di kota Cirebon, alih fungsi lahan tebu dari tahun 2009-2012 menyebabkan lahan berkurang dari 9.328 hektare menjadi 7.584 hektare(Yasa, 2013).

Oleh karena itu, untuk menghindari ancaman ketahanan pangan sebagai akibat dari laju pertumbuhan pendudukyang terus meningkat, pemerintah serta masyarakat harus melakukan perubahan terhadap pola hidup sekarang. Contohnya seperti, (1) tetap taat menggunakan program KB (Keluarga Berencana) agar pertumbuhan penduduk tetap terkendali, (2)menerapkan konsep pembangunan yang lebih baik agar alih fungsi lahan tidak terlalu boros, (3) tidak bergantung pada satu bahan  pangan dan lebih memvariasikan bahan pangan yang hendak dikonsumsi, contoh: mengalihkan konsumsi beras menjadi konsumsi pangan yang lain dengan sumber kabohidrat dan gizi yang kurang lebih sama.

Daftar Pustaka

Amir, H. (2013, Oktober 18). Alih fungsi lahan ancam ketahanan pangan. Diambil kembali dari SINDONEWS: http://www.sindonews.com/

Anonim. (2013, Sepetember 04). Ketahanan Pangan. Diambil kembali dari Wikipedia Indonesia: http://id.wikipedia.org/

Miftachhuddin Cut Adek, S. M. (2013, Juli 30). Saat energi dan pangan habis. Diambil kembali dari Atjeh Post: http://m.atjehpost.com/

Yasa, P. R. (2013, Mei 21). Luas Lahan Tebu Kian Menipis. Diambil kembali dari Tribun News: http://www.tribunnews.com/

Penulis:

Organisasi mahasiswa program studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalbar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s