Rendahnya Tingkat Mutu Pendidikan di Daerah Pedesaan

Rendahnya Tingkat Mutu Pendidikan di Daerah Pedesaan

Seperti  yang kita ketahui, saat ini telah terjadi ketidakmerataan mutu pendidikan di berbagai daerah di Indonesia. Disuatu kondisi, orang tua berusaha keras mendaftarkan anaknya di sekolah terbaik, disisi lain masih banyak orang tua yang acuh terhadapa dunia pendidikan.

 Rendahnya pendidikan di Indonesia diperkuat dengan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP).

Umumnya, problem pendidikan sering kali muncul akibat adanya ketidakmeratan pendidikan ini.Adanya perbedaan anatara kualitas pendidikan di daerah kota dan di daerah pedesaan .Kualitas pendidikan daerah pedesaan yang belakang membuat pemerintah sulit menetapkan standar pendidikan yang tinggi, mengingat dunia pendidikan di luar sudah maju dan kita dituntut untuk dapat mengimbangi mereka, kalau tidak kita akan jauh ketinggalan di belakang. Masalah pun akan lebih banyak muncul lagi.

Rendahnya tingkat mutu pendidikan di daerah pedesaaan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Mirisnya, rendahnya mutu pendidikan siswa pedesaan karena dilatarbelakangi rendahnya minat dari orang tua pula untuk menyekolahkan anak mereka. Penelitian Firdaus (2005) menyebutkan bahwa rendahnya minat orang tua untuk melanjutkan pendidikan anaknya ke Sekolah Menengah Pertama disebabkan: Pertama, faktor sosial budaya sebesar 87,3%. Kedua, faktor kurangnya biaya pendidikan (ekonomi tidak mampu) diperoleh sebesar 86,0%. Ketiga, faktor kurangnya tingkat kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan (faktor orang tua) diperoleh sebesar 59,1%. Keempat, letak geografis sekolah sebesar 50,8%.

Faktor sosial budaya berkaitan dengan kultur masyarakat yang berupa persepsi/pandangan, adat istiadat, dan kebiasaan. Menurut Dalyono (2008), “Anak-anak yang dibesarkan di kota pola pikirnya berbeda dengan anak di desa.” Pada umumnya anak yang tinggal di kota lebih bersikap aktif dan dinamis, bila dibandingkan dengan anak desa yang selalu bersikap statis dan lamban. Itulah sebabnya, perkembangan dan kemajuan anak yang tinggal di kota jauh lebih pesat daripada anak yang tinggal di desa.

Masyarakat ‘yang berpikiran sempit’ memandang bahwa pendidikan formal tidak begitu penting. Mereka merasa percuma saja sekolah karena hanya akan menghabiskan banyak biaya. Terlebih lagi kondisi masyarakat desa yang mayoritas bukan dari kalangan yang berada.

Selain itu, kesadaran orang tua akan dunia pendidikan yang rendah juga menjadi penghambat majunya dunia pendidikan pedesaan. Pola pikir dari masyarakat desa yang menganggap bahwa anak diwajibkan membantu untuk meringankan beban orang tua, sehingga sekolah bukanlah menjadi kewajiban bagi anak. Padahal, kita membutuhkan anak yang cerdas untuk memajukan daerah. Anak yang cerdas akan jauh lebih membantu nantinya. Dan sudah pasti harus menempuh jalur pendidikan terlebih dahulu.

Letak geografis daerah pedesaan membuat akses pendidikan sulit untuk dijangkau. selain itu, kurangnya SDM yang memadai juga menjadi batu picu terhambatnya pendidikan di pedesaan. Kualifikasi guru yang kurang professional ditambah lagi dengan saran dan prasarana sekolah yang tidak memadai, memperburuk pendidikan di pedesaan.

Mengingat pendidikan merupakan hal yang mutlak dan penting bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, lebih-lebih masyarakat pedesaan, maka pendidikan di pedesaan perlu dilakukan secara intensif dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mereka.  Jika ingin dikaitkan dengan konteks sosial masyarakat, sesungguhnya pendidikan dapat menjadi jalan keluar untuk menurunkan angka kemiskinan. Anak pintar menjadi aset masa depan yang dapat menaikkan taraf hidup keluarga.  Melalui pendidikan formal (sekolah) akan terbentuk kepribadian seseorang yang diukur dari perkembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor seperti terdapat dalam teori Bloom. Jadi, masyarakat yang tidak menyadari pentingnya pendidikan formal akan menjadi masyarakat yang minim pengetahuan, kurang keterampilan, dan kurang keahlian. Mereka akan menjadi masyarakat yang tertinggal dan terbelakang.Pada akhirnya, mereka tidak mampu bersaing pada majunya arus globalisasi. Anak-anak yang tidak memiliki pendidikan akan menjadi beban nantinya.

Semua problem diatas, meskipun terkesan kompleks, bukan berarti tidak mungkin diselesaikan. Pemerintah dan masyarakat harus optimis untuk bersama menyibak bayang gelap yang melanda pendidikan Indonesia. Dalam tulisan ini, penulis mencoba untuk memaparkan beberapa solusi untuk memperbaiki pendidikan pedesaaan :

  1. Langkah pertama yaitu dengan melakukan pemasyarakatan pendidikan bagi warga masyarakat desa sambil mengenali karakter pedesaan. Dengan mengenali karakter pedesaan akan lebih mudah dalam memilih dan menentukan pendekatan yang paling cocok untuk masyarakat desa. Untuk memeratakan pendidikan misalnya, kita harus meninjau kembali kondisi siswa dan sarana pendukung lainnya apakah sudak cukup mumpuni atas diberlakukanya  suatu standar pendidikan.
  1. Langkah kedua yang akan dilakukan pemerintah, yakni meningkatkan akses terhadap masyarakat untuk bisa menikmati pendidikan di Indonesia. Terutama pada daerah pedesaan, agar terjadi kesamarataan dalam menikmati fasilitas pendidikan.
  2. Langkah ketiga, meningkatkan mutu pendidikan dengan meningkatkan kualifikasi pendidik. Termasuk didalamnya dengan menanamkan model pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan bagi peserta didik. Ini menjadi tugas utama bagi pendidik. Menurut abdul gafur, setidaknya ada tujuh problem mikro pendidkan yaitu :

1)      Sulit mempelajari konsep yang abstrak,

2)      Sulit membayangkan peristiwa yang telah lalu,

3)      Sulit mengamati sesuatu obyek yang terlalu kecil/besar,

4)      Sulit memperoleh pengalaman langsung,

5)      Sulit memahami pelajaran yang diceramahkan,

6)      Sulit untuk memahami konsep yangg rumit,

7) Terbatasnya waktu untuk belajar

Dengan mengamati problem mikro diatas, kita dapat menerapkan beberapa model pembelajaran yang disesuaikan kembali dengan masalahnya. Untuk saat ini, sudah banyak model-model yang dkembangkan yang mungkin dapat kita terapkan, seperti pembelajaran problem posing atau dengan konsep “GAsing” yang di kembangkan oleh yohanes surya pada pembelajaran fisika dimana pembelajaran dibuat Gampang, Asik, dan menyenangkan.

Demikian upaya yang dapat kita lakukan. Selebihnya mungkin menjadi upaya bagi pemerintah untuk memfasilitasi, seperti pembiayaan, pemberlakuan standar pendidikan, dan lain-lain. Semoga dengan upaya ini, pendidikan Indonesia dapat maju dan mampu bersaing dengan arus globalisasi. Aamiin.

            Demikian tulisan singkat yang dapat disampaikan. Penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangan pada tulisan ini. Terima Kasih

->->–>

About HMPF FKIP UNTAN

Organisasi mahasiswa program studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalbar.

Posted on 11 Februari 2013, in WikiPAWK. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: